Beranda / Tsaqofah / Rabi’ul Awwal; Bulan Tegaknya Negara Islam Madinah

Rabi’ul Awwal; Bulan Tegaknya Negara Islam Madinah

Bulan Rabi‘ul Awwal merupakan bulan yang penuh dengan sejarah besar dan penting bagi umat Islam dan dunia. Meskipun kebanyakan umat Islam biasanya hanya mengenal bulan ini sebagai bulan kelahiran dan wafatnya Rasulullah Saw. Kedua peristiwa tersebut memang peristiwa yang agung dan sarat makna. Namun, ada satu peristiwa lain yang tak kalah penting, bahkan menjadi titik balik peradaban Islam, yakni tibanya Rasulullah Saw di Madinah. Tepat pada tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun pertama Hijriyah (14 Kenabian).

Sayangnya, peristiwa terakhir ini jarang mendapat perhatian. Atau mungkin biasanya dihubungkan dengan pergantian tahun baru Hijriyah. Padahal, pada momen inilah di mana Islam tidak hanya hidup di hati para sahabat, tetapi juga berdiri sebagai sebuah peradaban. Dari kota Madinah, cahaya Islam menyinari dunia, mengubah wajah sejarah manusia, dari kegelapan jahiliyah menuju petunjuk Allah.

Oleh karena itu, Rabi‘ul Awwal tidak cukup hanya dikenang sebagai bulan lahir dan wafatnya Rasulullah Saw, tetapi juga puncak perjalanan perubahan masyarakat yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Yakni, ketika beliau membangun masyarakat Islam, menegakkan hukum Allah, dan mengawali peradaban yang mulia.

Sebelum Rasulullah Saw hijrah, masyarakat Yatsrib (kelak menjadi Madinah) sudah mengenal dakwah beliau. Sebagian pemuda dan pemuka mereka bertemu Rasulullah Saw pada musim haji, mendengarkan seruan iman, lalu masuk Islam.

Pada tahun ke-12 kenabian, terjadilah Bai‘at Aqabah I yang diikuti sekelompok kecil penduduk Yatsrib. Tahun berikutnya, pada musim haji, terjadi Bai‘at Aqabah II yang dampaknya jauh lebih besar. Karena pada momen ini terjadilah penyerahan kekuasaan dan kepemimpinan dari para pemuka Yatsrib kepada Rasulullah Saw.

Dalam Bai‘at Aqabah II itu, 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib berjanji setia kepada Rasulullah Saw. Mereka berjanji akan melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri. Bai‘at ini bukan sekadar ikrar lisan, melainkan perjanjian politik yang menandai lahirnya sebuah masyarakat Islam di luar Makkah. Sejak saat itu, kaum Muslimin Yatsrib menanti dengan penuh kerinduan kedatangan pemimpin baru yang sangat mereka cintai, yakni Rasulullah Saw.

Setiap pagi, mereka keluar menuju padang pasir, memandang jauh ke arah Makkah, berharap hari itu menjadi hari tibanya Nabi Saw. Mereka yakin, kehadiran Rasulullah Saw akan membawa kebaikan, kemuliaan, dan keberkahan bagi kota mereka.

Perjalanan hijrah Rasulullah Saw penuh strategi dan perlindungan Allah. Sejarawan menuliskan secara rinci tahap-tahapnya:Pada tanggal 27 Safar tahun ke-14 kenabian (1 H), Rasulullah Saw keluar dari Makkah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Keduanya bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari pengejaran Quraisy.

Tanggal 27 sampai 29 Safar keduanya bermalam di gua itu. Asma binti Abu Bakar r.a. bertugas sebagai pengantar makanan bagi keduanya. Sebagian Quraisy yang melakukan pengejaran dan pencarian bahkan pernah sampai di mulut gua, namun Allah Swt. melindungi kedua hamba-Nya.

Pada 1 Rabi‘ul Awwal Rasulullah Saw dan Abu Bakar Ashshiddiq r.a. keluar dari Gua Tsur dan melanjutkan perjalanan dengan rute yang tidak biasa dilalui oleh para kafilah dagang. Hal itu dilakukan untuk mengelabui orang-orang Quraisy. Hari Senin 8 Rabiul Awwal, Beliau Saw tiba di Quba, tinggal selama empat hari di sana, dan mendirikan Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Saw.

Tepat pada hari Jumat 12 Rabi‘ul Awwal (begitu pula Jumat hari ini bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal, pen.) Rasulullah Saw. berangkat dari Quba menuju Madinah, singgah di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf untuk melaksanakan shalat Jumat pertama di lembah Ranuna. Lalu sekitar siang atau sore hari beliau memasuki kota Madinah dengan sambutan penuh cinta dari kaum Anshar.

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi merupakan peristiwa monumental yang menandai lahirnya fase baru dakwah: fase penerapan Islam secara kaffah sebagai sistem hidup dan pemerintahan. Penerapan seluruh hukum Islam oleh Rasulullah Saw. sebagai kepala negaranya.

Karena itu, 12 Rabi‘ul Awwal semestinya bukan hanya dikenang sebagai hari kelahiran Rasulullah Saw, tetapi juga hari penuh kegembiraan: hari tibanya Rasulullah Saw di Madinah.

Bayangkanlah suasana saat itu: kaum Anshar berdiri menanti di jalanan, anak-anak kecil melompat kegirangan, orang-orang menyambut dengan syair dan lantunan doa, sementara kaum lelaki berebut ingin menggandeng unta Rasulullah Saw. Semata karena masyarakat Madinah paham bahwa kehadiran beliau berarti hadirnya cahaya, kemuliaan, dan kehidupan yang penuh berkah.

Sejak hari itu, Yatsrib berubah menjadi Madinah al-Munawwarah, kota bercahaya. Dari sinilah Islam tegak sebagai agama dan peradaban. Dari kota ini pula syariat Allah ditegakkan, dan dari kota ini cahaya Islam menyebar ke seluruh dunia.

Maka, setiap kali memasuki bulan Rabi‘ul Awwal, marilah kita mengingat bukan hanya kelahiran dan wafatnya Rasulullah Saw, tetapi juga peristiwa hijrah beliau dan tibanya di Madinah. Sebagaimana kaum Anshar menanti kedatangan Nabi dengan keyakinan akan kebaikan dan kemuliaan, demikian pula umat Islam hari ini semestinya menanti dan memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam. Karena hanya dengan itulah dunia akan kembali bercahaya dengan rahmat, keadilan, dan kemuliaan Islam.

Wallahu a’lamu bishshawwaab. (Attasiky Billah)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *