Setiap tahun, ada masa di mana dunia mendadak berubah vibe. Timeline jadi pink aesthetic, caption mendadak penuh kata “love”, dan grup pertemanan mulai punya topik baru yang kayaknya “wajib dibahas”. Ada yang sibuk nyiapin surprise, ada yang sok cuek padahal matanya udah lirik-lirik kalender. Rasanya kayak ada arus tak terlihat yang bikin semua orang serempak kayak ikut festival global. Dan kalau kita nggak ikut? Duh, langsung muncul perasaan: “Kok gue doang yang beda ya?”
Di titik ini, FOMO bisa jadi jurus paling jitu. Kita nggak pernah benar-benar diajak, tapi atmosfernya bikin kita merasa harus ikut untuk tetap kelihatan “ngerti zaman”. Takut dianggap nggak gaul, takut dicap kurang update, takut dibilang anti-romantis. Jadinya banyak yang hanyut dalam euforia, bukan karena yakin itu benar, tapi karena takut terlihat sendirian di tengah keramaian.
Padahal, tanpa sadar, kita mulai ngukur diri pakai standar yang rapuh: komentar orang lain, jumlah like, dan seberapa banyak yang bilang “ih lucu!”. Validasi jadi kompas baru yang ngatur arah hidup kita. Pelan tapi pasti, tujuan berubah—bukan lagi cari kebenaran, tapi cari tepuk tangan. Bukan lagi soal prinsip, tapi soal biar nggak ketinggalan tren. Dan di sinilah alarmnya bunyi: hati-hati, gaes.
Karena kalau hidup digerakkan sama tren, maka wajar kalau kita gampang kebawa arus Valentine. Trendy? Maybe. Tapi pas dicek dari kacamata Islam… halal? Nope.
Tapi begini, sebelum jauh-jauh ngomongin Valentine, kita harus ingat dulu satu hal: Islam sama sekali nggak anti cinta. Cinta itu justru bagian dari paket default manusia. Satu hal harus diluruskan dulu: Islam itu nggak pernah nyuruh kita matiin perasaan. Suka sama seseorang, kagum, pengin diperhatiin, pengin ditemenin—itu semua fitrah. Allah sendiri yang nyiptain rasa itu. Jadi agak lucu kalau ada yang bilang, “remaja tuh nggak boleh suka sama siapa pun.” Itu bukan cuma nggak realistis, tapi juga bukan ajaran Islam. Yang jadi masalah bukan rasanya, tapi arahnya. Karena banyak remaja yang keburu percaya asumsi-asumsi yang nggak sehat: “Kalau gue suka, berarti harus jadian.” “Kalau nggak dilanjutin, nanti nyesel.” “Kalau nggak punya pasangan, berarti gue kalah saing.” Padahal itu semua cuma suara pikiran, bukan kebenaran. Coba dipikir: apa semua rasa harus diturutin? Kalau laper tengah malam, apa harus langsung kalap makan? Kalau marah, apa harus langsung meledak? Kan enggak. Rasa itu sinyal, bukan perintah. Tapi budaya hari ini sering ngajarin hal sebaliknya: suka harus diungkapkan, baper harus dilampiaskan, cinta harus dieksekusi. Alhasil banyak yang kesasar, bukan karena hati mereka buruk, tapi karena nggak tahu arah. Di sinilah uniknya Islam: bukan nyuruh kita matiin rasa, tapi ngajarin kita ngejaga rasa.
Masalahnya mulai muncul ketika momen tahunan ini—yang jelas bukan lahir dari budaya kita—masuk begitu saja ke kehidupan remaja Muslim dan dibungkus rapi seolah penuh cinta, manis, dan wajib dirayakan. Padahal kalau ditarik ke akar sejarahnya, Valentine bukan sekadar “hari kasih sayang”, tapi berasal dari tradisi Romawi kuno yang sarat ritual pagan dan praktik pergaulan bebas. Singkatnya: ini bukan momen yang punya landasan syar’i atau nilai keislaman. Dan di sinilah bahaya halusnya. Bukan cuma ikut tren—tapi tren itu pelan-pelan bikin batas jadi kabur. Hal yang dulu jelas maksiat jadi terasa wajar. Pacaran disamakan dengan perhatian. Baper dilegitimasi atas nama kasih sayang. Sampai akhirnya, tanpa sadar, banyak yang kejebak dalam gaya hidup yang semakin jauh dari arah Islam.
Rasulullah SAW sudah memperingatkan:
“Sungguh kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Valentine adalah contoh nyata: maksiat yang dibungkus “romantis”, lalu dianggap modern. Kalau kita nggak pasang filter, siapa pun bisa hanyut. Makanya, wajar kalau kita bilang: trendy? Maybe. Tapi halal? Nope.
Di momen tahunan seperti Valentine, validasi memang terasa murah. Sedikit perhatian, sedikit ucapan manis, sedikit rasa “gue juga ikut”, dan seolah semuanya jadi lengkap. Tapi semua itu cepat lewat. Besok timeline sudah ganti topik, orang-orang pindah ke tren baru, dan yang tersisa cuma hati yang kosong karena mengejar sesuatu yang nggak pernah benar-benar mengisi. Kalau hati kita terus dibiarkan lapar validasi, lama-lama bukan cuma capek—akidah pun bisa tergadai tanpa kita sadar.
Rasulullah SAW mengingatkan kita,
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad)
Dan akidah itu ibarat pagar: dia menjaga kita saat semua orang sibuk mengikuti arus, dia bikin kita berani beda tanpa minder, dan dia memberi kekuatan buat bilang “cukup” di saat orang lain masih mengejar sesuatu yang sia-sia.
Sebagai remaja Muslim, kita nggak dituntut buat jadi makhluk suci tanpa salah. Yang dituntut adalah punya prinsip. Islam nggak pernah melarang cinta, tapi menjaga agar cinta nggak berubah jadi maksiat. Islam nggak memadamkan masa muda, tapi melindunginya dari hal-hal yang bisa merusak masa depan. Karena yang terlihat seru hari ini kadang justru jadi penyesalan besok. Nggak semua yang ramai harus kita ikuti, dan nggak semua yang romantis itu benar. Apalagi kalau asal-usulnya jelas-jelas dari tradisi non-Islam, mengandung maksiat, atau mendorong pacaran bebas. Islam nggak butuh satu hari khusus untuk mencintai. Dalam Islam, cinta itu hidup setiap hari: suami-istri saling mencintai karena ibadah, anak menyayangi orang tua karena iman, dan setiap bentuk kasih sayang dihitung sebagai pahala—bukan dosa.
Karena itu, yuk pelan-pelan kita kenal Islam lebih dalam. Bukan cuma tahu larangannya, tapi paham alasannya. Bukan cuma ikut aturan, tapi ngerti tujuannya. Islam hadir bukan buat menyempitkan hidup, tapi buat menuntun supaya langkah kita terarah. Kalau iman kita kuat, FOMO nggak akan ngatur hidup kita. Kita bisa tetap tenang di tengah keramaian, tetap teguh di tengah tekanan, dan tetap jaga diri meski semua orang lagi ikut arus. Karena nilai diri kita bukan ditentukan oleh manusia, tapi oleh Allah. Cinta, perhatian, dan rasa baper itu fitrah—tapi kalau nggak dijaga, semuanya bisa mengikis masa muda yang seharusnya penuh potensi. Jadi daripada sibuk ngejar validasi musiman, mending isi hati dengan ilmu dan iman.
Pada akhirnya, Valentine bukan simbol cinta sejati. Ia cuma tradisi yang manis di luar, tapi bermasalah di dalam. Islam menawarkan konsep cinta yang jauh lebih bersih, lebih dalam, dan lebih bertanggung jawab—tanpa perlu ikut-ikutan budaya luar. Trendy? Maybe. Halal? Nope. Dan sebagai Muslim, kita cukup percaya: kalau kita jaga prinsip, Allah yang akan menjaga hati kita. [Yusnan]





2 Komentar
https://shorturl.fm/TvkF7
https://shorturl.fm/VqAjC