Beranda / Kolom Kang Bayan / Ramadhan, Perut Kosong dan Hawa Nafsu

Ramadhan, Perut Kosong dan Hawa Nafsu

Ramadhan itu unik. Begitu hilal diumumkan, yang berubah bukan cuma jadwal makan, tapi juga status media sosial. Tiba-tiba semua jadi ustaz. Timeline mendadak lebih alim dari perpustakaan. Yang kemarin debat politik sambil marah-marah, hari ini posting ayat lengkap dengan terjemahan dan emotikon tangan berdoa.

Padahal Ramadhan bukan lomba jadi saleh musiman.

Puasa itu sederhana: menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan. Tapi yang sulit bukan menahan makan. Yang sulit itu menahan serakah. Menahan curang. Menahan tangan supaya tidak mengambil yang bukan haknya.

Nabi Muhammad Saw sudah bilang Islam itu dibangun di atas lima perkara. Salah satunya shaum Ramadhan. Artinya ini fondasi, bukan dekorasi. Tapi kita sering memperlakukan puasa seperti stiker: ditempel sebulan, habis itu dilepas lagi.

Ramadhan datang tiap tahun, tapi korupsi juga datang tiap tahun. Tarawih penuh, tapi sidang kasus suap juga penuh. Masjid ramai, tapi hati tetap sepi dari rasa cukup.

Lucunya, kita bisa sangat disiplin menahan lapar dari Subuh sampai Maghrib, tapi tak sanggup menahan diri dari mark-up anggaran atau manipulasi laporan. Seolah-olah Allah hanya hadir di dapur dan ruang makan, tapi cuti dari ruang rapat dan kantor.

Padahal tujuan puasa jelas: la‘allakum tattaqun — supaya bertakwa.

Takwa itu bukan sekadar khusyuk waktu berdoa. Takwa itu berani jujur saat tidak ada yang melihat. Takwa itu tetap adil meski yang diadili adalah teman sendiri. Takwa itu menolak fasilitas haram meskipun semua orang bilang, “Sudah biasa, Pak.”

Kita ini sering lucu. Kalau soal bau mulut orang puasa yang katanya lebih harum dari kasturi di sisi Allah, kita hafal. Tapi soal larangan menimbun harta agar tidak beredar hanya di kalangan orang kaya, kita mendadak amnesia. 

Ramadhan juga selalu dikaitkan dengan keberkahan. Tapi berkah bukan berarti semua harga naik lalu disebut “ujian”. Berkah bukan berarti rakyat sabar sementara elite sibuk memperluas konsesi. Berkah itu ketika keadilan terasa. Ketika hukum tidak pilih kasih. Ketika yang kecil tidak terus-menerus jadi tumbal.

Dalam sejarah, umat Islam pernah besar bukan karena jumlah spanduk “Marhaban Ya Ramadhan”-nya paling banyak. Mereka besar karena takwa tidak berhenti di sajadah. Ia turun ke pasar, ke pengadilan, ke istana.

Sekarang kita sering memisahkan agama dari tata kelola. Puasa jalan, tapi sistem ekonomi dibiarkan liar. Zakat ditunaikan, tapi sumber daya alam diserahkan pada segelintir pemilik modal. Kita ingin surga, tapi mengelola bumi seenaknya.

Ramadhan mestinya jadi cermin. Kalau setelah sebulan penuh latihan menahan diri, kita tetap rakus, berarti yang lapar cuma perut—bukan ego.

Saya membayangkan begini: andai pejabat benar-benar menghayati lapar orang miskin, mungkin ia berpikir dua kali sebelum tanda tangan proyek yang mengorbankan rakyat. Andai pengusaha benar-benar merasakan haus orang kecil, mungkin ia tak tega menahan upah buruh.

Tapi barangkali masalah kita bukan kurangnya ayat. Kita kelebihan ceramah, kekurangan keteladanan.

Ramadhan tidak butuh kita jadi malaikat. Ia hanya minta kita jujur. Jujur pada Allah. Jujur pada diri sendiri. Jujur pada rakyat kalau kita memang dipercaya memegang amanah.

Kalau setelah Ramadhan kita tetap sama—mudah marah, mudah curang, mudah menyalahkan—mungkin yang perlu ditanya bukan “kapan Idul Fitri?”, tapi “benarkah kita sudah berpuasa?”

Sebab kemenangan itu bukan soal baju baru dan diskon besar-besaran. Kemenangan itu ketika kita berhasil mengalahkan diri sendiri.

Dan percayalah, mengalahkan diri sendiri jauh lebih sulit daripada mengalahkan lawan politik di panggung debat.

Selamat datang, Ramadhan. Semoga kali ini bukan cuma perut kita yang kosong, tapi juga keserakahan kita yang ikut berkurang bahkan hilang sama sekali.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *