Senja baru saja menurunkan cahayanya di sudut Kota Tasikmalaya dan diiringi dengan derasnya hujan, Ahad (22/2/2026). Di sebuah sudut hangat di Rumah Makan Genah Calik, puluhan remaja tampak memenuhi ruangan dengan wajah-wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka datang bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Mereka datang untuk “menemukan cahaya”.
Sore itu, Komunitas Teman Surga Tasikmalaya menggelar kegiatan bertajuk Amazing Ramadhan – Finding The Light, sebuah training remaja yang dikemas interaktif dan menyenangkan. Puluhan peserta hadir, membaur dalam suasana hangat penuh semangat.
Dibuka dengan Tilawah, Dihangatkan Kebersamaan
Tepat pukul 16.00 WIB, registrasi dimulai. Remaja yang datang disambut panitia dengan senyum ramah. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Semua terasa setara. Acara dibuka dengan tilawah Al-Qur’an yang membuat ruangan mendadak hening. Lantunan ayat suci menggema lembut, seolah menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang lapar dan dahaga, tetapi tentang perjalanan jiwa.
Ice Breaking yang Menghidupkan Suasana
Suasana yang semula khidmat berubah cair ketika sesi ice breaking dimulai. Tawa pecah saat para peserta mengikuti permainan ringan yang menuntut kekompakan dan konsentrasi. Tak ada wajah canggung. Tak ada yang menyendiri. Remaja-remaja itu mulai membuka diri. Mereka saling mengenal, saling menyemangati. Energi ruangan pun berubah—lebih hidup, lebih hangat. Panitia sengaja menyisipkan “inspiring moment” sebelum masuk sesi inti. Sebuah pengantar singkat tentang cahaya, tentang bagaimana setiap manusia pernah merasa gelap, dan Ramadhan adalah kesempatan untuk kembali terang.
“Finding The Light”: Ramadhan Sebagai Titik Balik
Memasuki sesi pertama bertajuk Finding The Light, pemateri mengajak peserta merenungi satu pertanyaan sederhana namun mendalam: “Kalau bukan Ramadhan ini, kapan lagi kita berubah?” Materi tidak disampaikan dengan ceramah satu arah. Pemateri aktif melempar pertanyaan. Peserta diminta menuliskan keresahan, target hidup, hingga kebiasaan buruk yang ingin mereka tinggalkan.
Beberapa peserta tampak terdiam lama sebelum menulis. Sebagian lainnya langsung menunduk, menorehkan kata-kata dengan serius.
“Dewasa itu bukan soal usia,” ujar pemateri dalam sesi kedua bertajuk Dewasa Itu Pilihan. “Dewasa adalah keberanian memilih yang benar meski tidak populer.” Kalimat itu disambut tepuk tangan spontan.
Mini Games: Belajar Lewat Tawa dan Tantangan
Dua sesi mini games menjadi momen paling dinamis. Berbekal kertas dan alat tulis, peserta dibagi dalam kelompok kecil. Mereka diminta menyelesaikan tantangan yang menguji komunikasi, strategi, dan kerja sama tim. Riuh suara diskusi memenuhi ruangan. Ada yang berdebat, ada yang tertawa, ada pula yang serius menyusun rencana. Di sinilah nilai kebersamaan terasa nyata. Tidak ada yang mendominasi. Setiap suara didengar. Setiap ide dihargai. Fasilitator berkeliling, memastikan setiap kelompok terlibat aktif. Interaksi berlangsung dua arah. Remaja yang semula pendiam pun mulai berani berbicara.
“The Secret of Death”: Sesi Perenungan yang Menggetarkan
Menjelang maghrib, suasana kembali berubah. Lampu sedikit diredupkan. Sesi bertajuk The Secret of Death menjadi momen paling reflektif sore itu. Peserta diajak membayangkan jika Ramadhan kali ini adalah yang terakhir. Jika waktu hidup tidak lagi panjang. Jika kesempatan memperbaiki diri semakin sempit. Beberapa peserta tampak menunduk. Ada yang menyeka mata. Hening menyelimuti ruangan. Dalam keheningan itu, pesan tentang makna hidup dan kematian terasa lebih dalam. Ramadhan bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi peluang emas yang belum tentu terulang.
Berbuka dengan Haru dan Harapan
Adzan Maghrib akhirnya berkumandang. Doa dipanjatkan bersama. Takjil dan air teh hangat membasahi tenggorokan yang sejak sore menahan dahaga. Namun yang lebih terasa bukan sekadar nikmatnya berbuka, melainkan kebersamaan yang tumbuh dalam waktu singkat. Usai sholat Maghrib berjamaah, peserta menikmati makan bersama. Tawa kembali terdengar. Obrolan ringan mengalir. Nomor kontak saling bertukar. Ukhuwah terjalin tanpa dipaksa.
Lebih dari Sekadar Acara
Kegiatan yang berlangsung sekitar dua setengah jam itu memang terbilang singkat. Namun dampaknya terasa panjang. Amazing Ramadhan bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang aman bagi remaja untuk merenung, untuk resah, untuk berharap, dan untuk berubah. Di tengah derasnya arus pergaulan bebas dan distraksi digital, ruang-ruang pembinaan seperti ini menjadi oase. Remaja tidak hanya diberi nasihat, tetapi dilibatkan. Tidak hanya disuruh mendengar, tetapi diajak berpikir.
Sore itu di Tasikmalaya, cahaya itu benar-benar dicari dan mungkin, mulai ditemukan. Ramadhan belum lama dimulai. Tapi bagi puluhan remaja yang hadir di Rumah Makan Genah Calik, perjalanan menuju versi terbaik diri mereka mungkin sudah dimulai.






