Beranda / Opini / Meneguhkan Jati Diri Umat Islam

Meneguhkan Jati Diri Umat Islam

Dalam beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan berbagai peristiwa yang mengguncang umat Islam, baik di tanah air maupun dunia internasional. Di Indonesia, umat dihadapkan pada derasnya arus sekularisasi dalam politik, ekonomi, bahkan pendidikan. Generasi muda lebih mengenal budaya populer Barat ketimbang sejarah peradabannya sendiri. Syariat Islam seringkali dipersempit hanya pada ranah ibadah ritual, sementara dalam urusan hukum, ekonomi, dan tata kehidupan sosial justru didorong untuk meniru Barat.

Di dunia internasional, penderitaan umat Islam juga tampak nyata. Palestina masih terus dijajah dan ditindas, sementara dunia Islam belum mampu bersatu untuk menghentikan kedzaliman itu. Di kawasan lain, umat Islam dihadapkan pada konflik, kemiskinan, dan tekanan ideologi global, yang semuanya mengikis jati diri sebagai umat terbaik.

Fenomena-fenomena ini menunjukkan betapa hadits Rasulullah Saw yang diucapkan 14 abad lalu benar-benar terjadi pada hari ini: umat Islam banyak jumlahnya, tetapi terpecah, rapuh, dan mudah diombang-ambingkan oleh kekuatan asing.

«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ؟» رواه البخاري ومسلم

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan jika mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Bukhari, Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa penyebab keterpurukan umat bukanlah karena jumlah yang sedikit, melainkan karena sikap umat yang lebih memilih meniru jalan hidup selain Islam. Umat Islam mengalami krisis identitas, kita seolah tidak tahu identitas kita yang sebenarnya. Padahal pada sisi yang berlawanan, umat-umat yang lain percaya diri dengan identitasnya seraya mempropagandakan berbagai pandangan hidup mereka terhadap umat Islam. 

Allah Swt. menegaskan menegaskan:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” (TQS. Al-Baqarah: 120).

Kata millah berarti jalan hidup, tradisi, bahkan syariah. Artinya, musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti mendorong umat ini meninggalkan jalan hidupnya, tradisi dan syariahnya. Bukan hanya dalam ibadah, melainkan juga dalam politik, ekonomi, dan seluruh aspek kehidupan. Di era kekinian, mereka menawarkan berbagai pandangan hidup (ideologi) buatan manusia seperti komunisme dan kapitalisme, yang pada dasarnya sama-sama menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Jika umat Islam terjebak dalam ideologi ini, maka jati dirinya sebagai umat yang khas akan hilang.

Pada sisi yang lain, terdapat faktor internal yang memperparah keadaan, yaitu lemahnya pemahaman (mafahim) umat terhadap ajarannya sendiri. Inilah yang menjadi akar krisis internal umat Islam.

Selaras dengan firman Allah Swt:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka…”(TQS. Ar-Ra’du: 11).

Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa “sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum,” berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, “sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. 

Sehingga perubahan umat tidak mungkin terjadi tanpa perubahan dalam pemahaman dan sikap mereka. Pemahaman yang salah akan melahirkan perbuatan yang salah, dan perbuatan yang salah akan membentuk kepribadian yang rusak. Inilah yang dijelaskan Rasulullah Saw dalam sabdanya:

“Bangsa-bangsa akan memanggil satu sama lain untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang hendak makan memanggil satu sama lain untuk menyantap hidangan mereka.” Seseorang bertanya: “Apakah karena jumlah kita sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab: “Bahkan kalian pada hari itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Umat Islam banyak secara jumlah, tetapi rapuh secara kualitas karena pemahaman mereka yang bathil. Di sinilah letak masalah inti: tanpa pemahaman (mafahim) Islam, umat hanya laksana menjadi buih di lautan. Sehingga kita harus membangun kembali kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) supaya umat Islam percaya diri dengan keislamannya.

Setiap manusia memiliki kebutuhan jasmani, naluri, dan akal. Semuanya menuntut pemenuhan, tetapi cara pemenuhannya tergantung pada mafahim yang dimiliki. Jika mafahimnya sekuler, maka standar perbuatan adalah manfaat. Jika mafahimnya materialis, maka standar perbuatan adalah dialektika materialisme. Namun jika mafahimnya Islami, maka standar perbuatan adalah halal dan haram.

Dengan demikian, membangun syakhshiyyah Islamiyyah di dalam diri manusia  berarti membangun pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang Islami, sehingga semua aktivitasnya akan selaras dengan Islam. Dari sinilah jati diri umat akan kembali kokoh.

Meneguhkan jati diri umat Islam tidak cukup hanya pada level individu. Ia harus diwujudkan secara kolektif, agar umat kembali kepada jalan yang lurus.

Rasulullah Saw pernah menggambar garis lurus lalu bersabda:

«هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ مُسْتَقِيمًا» ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ فَقَالَ: «هَذِهِ السُّبُلُ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ»
(رواه أحمد والنسائي)

“Ini adalah jalan Allah yang lurus… ini adalah jalan-jalan lain, pada setiapnya ada setan yang mengajak kepadanya.”(HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Walhasil, penyebab utama keterpurukan umat adalah hilangnya jati diri akibat lemahnya mafahim Islami. Sehingga kita harus membangun kembali pemahaman umat supaya terbangun kepribadian islam yang kokoh, baik pada level individu maupun kolektif. Dengan itu, umat Islam akan kembali menjadi khairu ummah yang memimpin peradaban. 

Islam adalah jalan hidup yang lurus. Maka tugas kita adalah meneguhkan jati diri dengan kembali kepada Islam secara kaffah, tanpa mencampurkannya dengan pandangan hidup atau jalan hidup yang lain. Wallahu al Hadi ila sabili ar Rasyadi. Aamiin. (Attasiky Billah).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *