Beranda / Reportase / Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, Angkat Tema “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan”

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, Angkat Tema “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan”

Tasikmalaya – Matahari pagi di Dadaha, Tasikmalaya, Ahad 5 Oktober 2025 di Gedung Creative Centre menjadi ruang penuh cahaya keimanan. Ratusan peserta lintas usia dan latar belakang hadir, disambut dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Peserta duduk berbaris, menyatukan hati dalam satu peringatan: Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.

Maulid kali ini bukan sekadar ritual tahunan. Ada pesan besar yang ingin disampaikan panitia: “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan”. Tema ini seolah menjawab kegelisahan banyak umat Islam hari ini tentang perpecahan, tentang ketidakberdayaan, dan tentang luka yang masih menganga di negeri Islam khususnya Gaza, Palestina.

Menyentuh Hati, Menggugah Pikiran

Ust. Yopi Purwadyi selaku Qori, membuka acara dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya yang syahdu mampu meluruhkan hati siapa pun yang mendengarnya dilanjut dengan lantunan Shalawat bersama semakin membangun suasana kecintaan kepada Sang Nabi. Tak lama kemudian, layar besar di panggung menayangkan perjalanan dakwah Islam, dari masa Rasulullah SAW hingga Khilafah Utsmani. Potongan sejarah itu bukan hanya tontonan, melainkan renungan: bagaimana sebuah risalah mampu mengubah arah dunia.

Dilanjutkan dengan uraian penuh makna dari Ust. Zulfikar Tamher yang menggambarkan bagaimana Islam dan umatnya berkembang luar biasa menjadi sebuah peradaban besar menyinari pelosok negeri di seluruh dunia.

Narasi Persatuan dari Para Ustadz

Panggung Maulid juga menghadirkan Talkshow Bersama para narasumber yang luar biasa Ust. Ary Herawan, Ust. Ade Candra dan Ust. Zulfikar Tamher dipandu oleh Host yang enerjik -Ust. Achmad Luthfi-, dua narasumber Ust. Ary Herawan dan Ust. Ade Candra mengantarkan peserta menelusuri makna Maulid dari perspektif sejarah, sosial, dan politik. Mereka tidak hanya berbicara tentang kelahiran Nabi, tetapi juga tentang warisan besar beliau: sebuah risalah yang menyatukan umat dalam naungan Khilafah Islamiyah. Ust. Zulfikar Tamher banyak menyoroti peran generasi muda sebagai penerus estafet perjuangan penegakkan syariat Islam.

Di lanjut tayangan, tentang kondisi Gaza Palestina dari sejarah penaklukannya sampai realitas kondisi saat ini. Ust. Ikhsan Algifari menyertai dengan puisi yang menggelora, dimana setiap baitnya bukan sekadar kata, tapi jeritan nurani yang mampu membius ruangan, menghadirkan bayangan reruntuhan bangunan, tangis anak-anak, dan doa yang tak pernah putus dari rakyat Palestina dan umat Islam di seluruh dunia.

Sentuhan Digital di Era Baru

Selain hadir langsung, peserta juga diajak untuk ikut mengabadikan dan menyebarkan publikasi digital paska acara. Dimana peran peserta bukan hanya hadir, tapi juga diharapkan pesan Maulid sampai ke lebih banyak orang. 

Lintas Generasi, Lintas Latar Belakang

Menariknya, panitia menargetkan peserta lintas generasi dan kalangan. Di Gedung Creative Centre, kita bisa menyaksikan anak muda duduk di samping tokoh masyarakat yang sudah sepuh, atau peserta lain yang dengan khidmat mendengarkan aktif diskusi interaktif antara para narasumber bersama peserta yang hadir. Semua larut dalam satu momen kebersamaan.

Lebih dari Sekadar Perayaan

Bagi panitia, Maulid tahun ini adalah ruang untuk memperkokoh keimanan, memperkuat ukhuwah, sekaligus membangkitkan kesadaran politik umat. Pesannya jelas: risalah Nabi adalah sumber kekuatan, dan persatuan umat adalah tujuan yang tak boleh ditawar.

“Kalau pemahaman Islam kita hanya berhenti pada ritual semata, kita kehilangan makna. Tapi kalau pemahaman Islam jadi titik tolak perjuangan, itu baru sesuai dengan semangat ittiba kita kepada Rasulullah SAW,” ujar seorang narasumber dalam sesi diskusi.

Harapan dari Tasikmalaya

Tasikmalaya, kota yang sering disebut sebagai kota santri, punya tradisi panjang dalam menghidupkan syiar Islam. Tidak heran bila peringatan Maulid kali ini terasa begitu dekat dengan denyut kehidupan masyarakatnya. Dari lantunan Qur’an, diskusi yang menggugah, hingga doa bersama, semuanya dirancang untuk menghadirkan semangat kebersamaan.

Dan di balik itu semua, ada harapan yang tak pernah padam: agar umat Islam benar-benar menyatu, mengingat kembali satu risalah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW, serta menegakkan satu tujuan besar bagi masa depan.

Maulid 1447 H bukan hanya tentang kelahiran Nabi. Ini adalah ajakan untuk lahir kembali sebagai umat yang kuat, peduli, dan bersatu mewujudkan peradaban Islam.

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *