Katanya negeri ini sedang berubah. Katanya ekonomi tumbuh. Katanya rakyat makin sejahtera. Katanya…
Sayangnya, kata-kata manis itu berhenti di podium. Di layar presentasi, grafik memang menanjak. Angkanya ciamik, di atas 5 persen. Tapi begitu turun ke lapangan, grafiknya terbalik: naik harga, turun daya beli. Naik pajak, turun isi dompet. Naik janji-janji pejabat, turun kadar kepercayaan rakyat.
Pertumbuhan ekonomi versi kapitalisme itu ibarat diet “before-after” di iklan internet. Foto before-nya buram, foto after-nya diambil pakai filter. Padahal kenyataannya, timbangan di rumah tetap nggak bergeser.
Rakyat Bertanya: Siapa yang Tumbuh?
“Ekonomi tumbuh 5 persen,” kata pemerintah.
“Yang tumbuh siapa?” tanya ibu-ibu di pasar. “Harga beras naik, minyak goreng naik, cabai rawit bikin jantung deg-degan. Anak sekolah minta uang jajan, bapaknya malah bingung bensin motor naik lagi.”
Di Daerah misalnya, tidak sedikit pabrik gulung tikar. PHK massal jadi berita rutin. Toko-toko tutup, pasar sepi pembeli. Kalau ini namanya pertumbuhan, jangan-jangan yang tumbuh cuma jumlah pengangguran.
Kapitalisme pandai sekali bikin narasi positif. Kalau rakyat susah, dibilang “ini ujian ketahanan ekonomi.” Kalau pengangguran banyak, dibilang “perlu meningkatkan skill.” Kalau harga naik, dibilang “demi penyesuaian global.” Semua ada istilahnya, semua pakai bahasa manis. Cuma satu yang nggak pernah naik: kesejahteraan rakyat.
Kapitalisme: Ahli Sulap Ekonomi
Kapitalisme itu persis pesulap. Tangannya gesit, mulutnya lihai. Ia bisa bikin rakyat terkagum-kagum sebentar, lalu sadar dompetnya hilang.
Utang negara? Tambah triliunan. Solusinya? Ambil utang baru.
Harga naik? Bikin operasi pasar sehari dua hari, lalu hilang lagi.
Rakyat miskin? Bagi-bagi bansos sesaat, difoto, divideo, lalu selesai.
Seperti tambal ban pakai plester luka. Jalan sebentar, bocor lagi. Jalan lagi, bocor lagi. Lama-lama bannya habis, motornya mogok, dan tukang tambalnya kabur.
Obrolan Warung Kopi
Mari kita simak percakapan di sebuah warung kopi kampung:
Pak RT: “Katanya ekonomi naik 5 persen. Kita kok nggak kerasa ya?”
Pak Ujang: “Kerasa kok, Pak. Harga rokok naik, kopi naik. Itu tandanya ekonomi kita makin sehat, kata berita.”
Bu Eni (penjual): “Iya, sehat dompet siapa dulu? Dompet saya sih makin kurus.”
Pak Budi: “Kata pemerintah, kita harus bersyukur masih bisa belanja.”
Bu Eni: “Belanja apaan? Belanja hutang di warung saya?”
Beginilah kapitalisme: sukses bikin rakyat jadi bahan stand-up comedy.
Perubahan Semu
Pemerintah bilang ada perubahan. Betul, ada. Tapi perubahan semu. Seperti pakai cat baru di rumah tua—luar kelihatan kinclong, dalamnya tetap lapuk.
Angka ekonomi boleh naik, tapi rakyat masih susah cari kerja. Pendidikan mahal, kesehatan bikin stres, harga sembako bikin keringat dingin. Jadi, perubahan macam apa yang dibanggakan?
Kalau benar ada perubahan, mestinya rakyat bisa hidup lebih tenang. Bukan malah semakin waswas setiap kali masuk minimarket karena takut harga susu anak sudah naik lagi.
Kapitalisme dan Seni Berjanji
Kapitalisme punya hobi unik: bikin janji.
Janji: utang akan digunakan untuk infrastruktur.
Faktanya: utang bertambah, rakyat bayar bunga.
Janji: subsidi tepat sasaran.
Faktanya: rakyat tetap bayar mahal BBM, listrik naik, pupuk langka.
Janji: pertumbuhan ekonomi inklusif.
Faktanya: inklusif untuk konglomerat, eksklusif untuk rakyat jelata.
Kalau janji bisa dimakan, mungkin rakyat kita sudah kenyang. Sayangnya, yang bisa dimakan cuma mi instan, itu pun porsinya makin dikurangi.
Islam: Bukan Tambal Sulam
Nah, sekarang bandingkan dengan Islam. Islam nggak main sulap, nggak main tambal sulam. Sistem Islam bicara akar masalah, bukan sekadar angka-angka.
Rasulullah saw. dulu mengubah masyarakat Arab dari jahiliah jadi bermartabat. Bukan dengan grafik pertumbuhan, tapi dengan aturan menyeluruh: politik, sosial, ekonomi, sampai hukum. Negara Islam waktu itu bukan cuma bikin aturan pajak, tapi benar-benar mengurus rakyat.
Dalam Islam, sumber daya alam bukan jadi bahan rebutan asing atau swasta, tapi milik bersama. Negara wajib kelola, rakyat wajib merasakan. Kesehatan, pendidikan, pangan—itu tanggung jawab negara, bukan jualan bisnis.
Anekdot Pasar Tradisional
Di sebuah pasar tradisional, seorang ibu sedang menawar harga cabai.
Ibu: “Mbak, kok mahal sekali cabainya? Katanya ekonomi kita naik.”
Pedagang: “Iya, Bu. Ekonominya naik, jadi harga juga ikut naik.”
Ibu: “Lho, terus kapan turunnya?”
Pedagang: “Nggak tahu, Bu. Mungkin nunggu kapitalisme insaf.”
Kalau kapitalisme bisa insaf, mungkin es krim bisa awet di bawah terik matahari.
Dari Statistik ke Realitas
Ingat, angka pertumbuhan 5 persen itu hanya catatan di kertas. Ia bisa dipoles, bisa dibanggakan, bisa jadi headline berita. Tapi perut rakyat tak bisa dibohongi. Statistik tak bisa masuk ke piring makan.
Apa gunanya ekonomi naik kalau anak-anak masih banyak putus sekolah? Apa artinya utang luar negeri disanjung sebagai “strategi” kalau generasi mendatang harus menanggung bebannya?
Kapitalisme selalu gagal menjawab pertanyaan sederhana: bagaimana caranya semua orang bisa hidup layak, bukan hanya segelintir elite?
Penutup: Humor Pahit
Mari kita akhiri dengan humor pahit.
Ada tiga orang ngobrol: pejabat, pengusaha, dan rakyat kecil.
Pejabat: “Ekonomi kita tumbuh, rakyat sejahtera.”
Pengusaha: “Betul, saya makin kaya.”
Rakyat kecil: “Sejahtera? Kaya? Mohon maaf, itu acara di channel TV sebelah ya?”
Begitulah kapitalisme. Lucu tapi bikin nangis. Statistiknya indah, realitasnya gundah.
Kalau mau perubahan nyata, jangan lagi percaya pada sulap kapitalisme. Saatnya bicara perubahan hakiki—sistem yang benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada grafik yaitu Sistem Ekonomi Islam.






3 Komentar
Slotvip register… is the registration process easy? As long as that’s good, I’m in. Ready to roll the dice. Register now slotvip register
Checked out Jilibet 020. Pretty standard stuff, nothing too crazy. But hey, could be worth a spin if you’re looking to kill some time. jilibet 020
Downloaded the Playtime PH APK and gave it a whirl. It’s actually not that bad! The interface is user-friendly. Hopefully, they keep updating it with new games. Get your Playtime PH APK from playtime ph apk.