Beranda / Kolom Kang Bayan / Solusi Dua Negara Perdamaian Rasa Diskon 50%

Solusi Dua Negara Perdamaian Rasa Diskon 50%

Ada banyak hal di dunia ini yang terdengar manis di telinga, tapi begitu dicicip ternyata pahit. Misalnya, kata-kata “diskon besar-besaran” yang bikin kita lari ke mall, tapi sampai sana ternyata hanya berlaku untuk sandal jepit ukuran jumbo. Nah, “solusi dua negara” untuk Palestina-Israel itu kurang lebih sama. Namanya indah, rasanya getir.

Presiden Prabowo dengan mantap bilang Indonesia siap mengakui Israel kalau Palestina sudah merdeka. Kedengarannya bijak, diplomatis, penuh cita-cita perdamaian. Tapi, kalau dipikir-pikir, ini mirip orang yang bilang, “Saya setia kok… asalkan mantan saya juga setia sama pasangannya.” Ribet, nggak jelas, dan pada akhirnya bikin bingung semua orang.

Rumah Dijarah, Pemiliknya Disuruh Bagi Dua

Coba bayangkan Anda punya rumah. Suatu hari ada maling masuk, usir Anda, hancurin perabot, bahkan bikin keluarga Anda menderita bertahun-tahun. Eh, tiba-tiba datanglah “mediator internasional” dengan gagah berkata:
“Begini saja deh, biar adil, rumah ini dibagi dua. Separuh buat Anda, separuh lagi buat malingnya. Damai, kan?”

Ya jelas absurd! Itu bukan damai, itu legitimasi perampokan. Sama saja dengan bilang, “Keadilan itu ketika korban dan pelaku sama-sama dapat porsi.” Kalau ini disebut solusi, mungkin kita perlu bikin kamus baru untuk definisi kata “adil”.

Amerika, Si Tukang Kompor

Jangan lupa, konsep solusi dua negara ini bukan lahir dari mimpi indah rakyat Palestina. Ia lahir dari dapur politik Amerika. AS ibarat tukang kompor yang sibuk bilang, “Tenang, biar saya yang atur.” Padahal, setiap kali mereka ikut campur, hasilnya kayak masakan gosong: nggak enak, tapi tetap dipaksa makan.

Amerika butuh Israel untuk menjaga “kulkas” minyak dan gas di Timur Tengah tetap aman. Jadi jangan heran kalau solusi dua negara lebih mirip kontrak bisnis ketimbang resep perdamaian. Palestina? Ya, cuma jadi figuran dalam drama panjang geopolitik.

Israel: Maunya Semua, Bukan Separuh

Lucunya lagi, Israel sendiri sebenarnya nggak tertarik dengan konsep ini. Mereka sudah enak-enakan menguasai 78 persen tanah Palestina. Lalu, kalau ada solusi dua negara, mereka harus rela berbagi? Oh, tentu tidak. Sama saja menyuruh anak kecil berbagi cokelat yang sudah setengah dimakannya, dia akan bilang, “Habis ini buat aku semua!”

Jadi, ketika ada yang bilang “solusi dua negara akan bawa damai”, itu seperti berharap kucing berhenti makan ikan asin hanya karena kita bilang “please”.

Palestina: Dipaksa Bertetangga dengan Penjajah

Nah, dari sisi Palestina, solusi ini ibarat dipaksa tinggal sekamar dengan orang yang sudah bertahun-tahun menghajar dan merampas haknya. “Ya udah deh, demi damai, kalian tidur bareng aja.”

Kedengarannya manis, tapi sebenarnya itu penghinaan. Setelah puluhan ribu korban berjatuhan, setelah rumah, sekolah, dan masjid hancur lebur, rakyat Palestina disuruh bilang, “Oke, mari kita hidup berdampingan dengan penjajah.”

Itu bukan perdamaian, itu pemaksaan.

Pemimpin Muslim: Lebih Takut Kursi daripada Nurani

Yang bikin makin miris, sebagian pemimpin Muslim justru mengamini solusi dua negara ini. Alasannya sederhana: takut kehilangan kursi kekuasaan. Daripada bikin Washington marah, lebih baik pura-pura bijak dengan slogan “demi perdamaian dunia”.

Mereka ini seperti tetangga yang melihat ada maling masuk rumah sebelah, tapi bukannya menolong malah bilang, “Ya udah lah, bagi dua aja biar nggak ribut.” Aman untuk dirinya, celaka untuk orang lain.

Satir Akhir: Perdamaian Rasa Diskon

Jadi, mari kita simpulkan:

  • Israel: maunya semua.
  • Amerika: maunya bisnis tetap jalan.
  • Palestina: dipaksa ikhlas.
  • Pemimpin Muslim: maunya aman di kursi empuk.
  • Dunia: maunya ribut selesai, meski caranya absurd.

Solusi dua negara ini ibarat promo “diskon 50%”: terdengar menggiurkan, padahal isinya jebakan. Anda beli sepatu dengan label diskon, eh ternyata hanya sepatu sebelah kanan yang dijual.

Kalau perdamaian hanya bisa dibangun dengan mengakui penjajahan, maka itu bukan perdamaian, itu perdamaian rasa diskon. Dan kita semua tahu, barang diskonan jarang awet.

📌 Catatan Penulis: Kolom ini bukan untuk menertawakan penderitaan rakyat Palestina, melainkan untuk menertawakan absurditas politik dunia yang dengan santainya menjual ilusi bernama “solusi dua negara”.

[Kang Bayan]

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *