Beranda / Tafsir Quran / Tafsir Al-Ahzab: 21 — Rasulullah ﷺ sebagai Uswatun Hasanah dalam Perjuangan Politik Islam

Tafsir Al-Ahzab: 21 — Rasulullah ﷺ sebagai Uswatun Hasanah dalam Perjuangan Politik Islam

Oleh: Ust. Zulfikar Tamher

Setiap Muslim tentu meyakini bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia terbaik yang diutus Allah ke muka bumi. Kecintaan kepada beliau hadir dalam berbagai bentuk: melantunkan shalawat, memperingati maulid, hingga berusaha meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu merupakan ekspresi cinta yang bernilai ibadah. Akan tetapi, sering kali pemahaman umat tentang keteladanan Rasul masih menyempit, hanya sebatas pada ranah ibadah mahdhah dan akhlak personal. Rasul seakan hanya dilihat sebagai teladan dalam kelembutan hati, kesabaran, atau kesalehan individu.

Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah—teladan yang sempurna—dalam seluruh aspek kehidupan. Allah tidak membatasi keteladanan itu pada urusan ibadah ritual, tetapi mencakup bagaimana beliau berdakwah, memimpin masyarakat, mengatur negara, hingga mengelola hubungan politik dengan bangsa lain. Lebih dari itu, ayat yang menyebut Rasul sebagai uswah hasanah justru turun dalam konteks peperangan yang sarat dengan dimensi politik dan kekuasaan, bukan dalam konteks ibadah individual.

Realitas hari ini memperlihatkan bahwa umat Islam sedang berada dalam krisis besar. Syariat terpinggirkan dari kehidupan, politik dikuasai oleh sistem sekuler, dan umat tercerai-berai tanpa kepemimpinan yang menyatukan. Dalam kondisi inilah, kembali meneladani Rasulullah ﷺ sebagai uswah hasanah menjadi sebuah keharusan. Meneladani beliau bukan sekadar mengikuti akhlaknya, melainkan juga menempuh jalan perjuangan beliau dalam menegakkan Islam secara kaffah. Dengan begitu, cinta kita kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya ucapan, tetapi dibuktikan dalam komitmen ideologis untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup.

Pembahasan QS. Al-Ahzab: 21 dan Penafsiran Para Mufasir

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya,
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini turun dalam konteks Perang Ahzab (Khandaq), ketika kaum Muslim dikepung oleh koalisi pasukan Quraisy, Yahudi, dan sekutu-sekutu mereka. Situasi sangat genting; ketakutan meliputi Madinah. Dalam kondisi inilah Allah SWT menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah, teladan sempurna yang harus diikuti. Artinya, keteladanan itu justru ditegaskan di tengah peristiwa politik-militer, bukan dalam konteks ibadah ritual semata.

Ibnu Katsir menafsirkan:

 “يَقُولُ تَعَالَى: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي رَسُولِ اللَّهِ، أَيْ قَدْوَةٌ فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِ وَأَقْوَالِهِ وَأَحْوَالِهِ” 

Artinya,
“Allah Ta‘ala berfirman: Sungguh pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kalian, yaitu panutan dalam semua perbuatan, ucapan, dan keadaan beliau.”

Menurutnya, keteladanan ini paling tampak pada kesabaran, keberanian, dan keteguhan Rasul dalam menghadapi musuh pada peristiwa Khandaq.

Ath-Thabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menegaskan:

 “إِنَّمَا عَنَى جَلَّ ثَنَاؤُهُ… الْقِدْوَةَ فِي جِهَادِ الْعَدُوِّ، وَالصَّبْرِ عَلَى الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ” 

Artinya,
“Yang dimaksud Allah dengan firman-Nya itu ialah teladan dalam berjihad melawan musuh, bersabar menghadapi kesulitan dan penderitaan.”

Sementara Al-Qurthubi menulis:

 “هَذَا تَأْدِيبٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّأَسِّي بِهِ فِي جِهَادِ الْكُفَّارِ وَمُقَاتَلَتِهِمْ وَالصَّبْرِ عَلَى الْبَلَاءِ” 

Artinya,
“Ayat ini adalah pengajaran dari Allah agar mengikuti Nabi ﷺ dan meneladani beliau dalam jihad melawan orang-orang kafir, memerangi mereka, serta bersabar atas cobaan.”

Dari berbagai tafsir ini, tampak jelas bahwa konteks uswatun hasanah adalah konteks perjuangan. Rasulullah ﷺ dijadikan teladan bukan hanya karena ibadah atau akhlaknya, melainkan karena keteguhannya dalam memimpin umat, mengatur strategi, dan menghadapi tantangan politik-militer dengan penuh keberanian. Dengan kata lain, uswah hasanahyang dimaksud dalam ayat ini adalah keteladanan Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin, mujahid, dan kepala negara Islam yang mengarahkan umat menuju kemenangan.

Definisi Uswatun Hasanah

Secara kebahasaan, kata uswah (الأُسْوَة) berarti teladan atau contoh yang layak diikuti. Kata ini seakar dengan qudwah(القدوة), yang bermakna panutan dalam sikap, ucapan, maupun tindakan. Sedangkan kata hasanah (حَسَنَة) bermakna baik, mulia, sempurna. Dengan demikian, frasa uswatun hasanah mengandung arti teladan paripurna yang tidak hanya layak diikuti dalam sebagian sisi kehidupan, melainkan dalam seluruh dimensi keberadaan Rasulullah ﷺ.

Imam Raghib al-Ashfahani dalam Mufradāt al-Qur’ān menulis:

 “الأُسْوَةُ هِيَ الْقُدْوَةُ الَّتِي يُتَأَسَّى بِهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ فِي الْخَيْرِ أَوِ الشَّرِّ، وَإِذَا قُيِّدَتْ بِالْحَسَنَةِ فَهِيَ فِي الْخَيْرِ خَاصَّةً”

Artinya,
“Uswah adalah teladan yang diikuti, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Jika digandengkan dengan kata hasanah, maka ia khusus untuk kebaikan.” 

Penjelasan ini menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan yang baik secara mutlak, bukan sebagian, dan keteladanan itu berlaku dalam segala sisi kehidupan.

Sayyid Quthb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menambahkan nuansa kontekstual yang sangat penting. Menurut beliau, ayat ini turun di tengah kondisi penuh ketegangan, ketika kaum Muslim berhadapan dengan pasukan gabungan yang mengepung Madinah. Dalam situasi itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya tampil sebagai sosok penyabar, melainkan sebagai pemimpin strategis yang mengarahkan umat untuk tetap teguh di jalan Allah. 

Quthb menulis,

 “لقد كان في رسول الله قدوة صالحة، في الثبات على الشدائد، وفي الثقة بوعد الله، وفي التحرك وفق منهج الله” 

Artinya,
“Sungguh, pada diri Rasulullah ada teladan mulia: dalam keteguhan menghadapi kesulitan, dalam kepercayaan penuh pada janji Allah, dan dalam bergerak sesuai dengan manhaj Allah.”

Dengan demikian, uswatun hasanah tidak bisa dipahami secara parsial. Ia tidak hanya mengajarkan kita untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam shalatnya, puasanya, atau kelembutannya. Lebih dari itu, ia mengajarkan kita untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam sikap ideologisnya yang konsisten, dalam keberaniannya menolak kompromi dengan sistem kufur, dan dalam kepemimpinannya membangun masyarakat Islam yang berlandaskan syariah.

Rasulullah ﷺ sebagai Uswah dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Rasulullah ﷺ adalah sosok teladan paripurna dalam seluruh dimensi kehidupan. Dalam aspek ibadah mahdhah, beliau adalah orang yang paling khusyuk dalam shalat, paling rajin dalam berpuasa sunnah, dan paling tekun dalam berdoa serta berdzikir. Ibadah beliau tidak pernah berhenti meskipun harus menghadapi beban dakwah yang sangat berat. Dalam aspek akhlak, beliau adalah pribadi yang digambarkan Ummul Mu’minin Aisyah r.a. dengan ungkapan singkat namun mendalam: “كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ” (akhlaknya adalah Al-Qur’an). Setiap tutur kata dan perbuatan beliau merupakan cerminan langsung dari wahyu Allah.

Namun, keteladanan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada akhlak personal dan ibadah ritual. Beliau juga merupakan teladan dalam urusan sosial, kepemimpinan, dan politik. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah ﷺ menolak tawaran kompromi dari para pemimpin Quraisy yang siap memberikan kekuasaan dan harta, asal beliau menghentikan dakwah Islam. Sikap beliau yang tegas menolak kompromi menunjukkan prinsip ideologis yang kuat: Islam tidak bisa diperdagangkan, dan risalah ini tidak akan ditawar dengan kepentingan duniawi. Inilah uswah hasanah yang sesungguhnya—keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran tanpa sedikit pun melunak pada sistem kufur.

Keteladanan Rasulullah ﷺ dalam politik juga terlihat jelas setelah hijrah ke Madinah. Beliau tidak sekadar menjadi imam shalat, melainkan tampil sebagai kepala negara. Rasulullah ﷺ membangun Daulah Islam dengan Piagam Madinah sebagai konstitusi yang memayungi masyarakat multikultural. Beliau memimpin pasukan dalam peperangan, mengatur diplomasi dengan kabilah-kabilah, mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan besar seperti Persia dan Romawi, menetapkan hukum-hukum syariah, serta mengelola kehidupan sosial dan ekonomi umat Islam. Semua itu menunjukkan bahwa uswah hasanah Rasulullah ﷺ meliputi ranah politik, hukum, dan kepemimpinan umat.

Dengan demikian, meneladani Rasulullah ﷺ berarti mengikuti beliau dalam seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, akhlak, maupun perjuangan politik. Keteladanan beliau yang paling strategis bagi umat hari ini adalah bagaimana beliau memimpin dakwah yang ideologis, menolak kompromi dengan sistem kufur, dan mendirikan negara Islam sebagai wadah penerapan syariah. Inilah dimensi uswah hasanah yang sering dilupakan, padahal justru paling urgen untuk dihidupkan kembali di tengah krisis peradaban umat Islam saat ini.

Kesimpulan

Ayat tentang uswatun hasanah dalam QS. Al-Ahzab:21 memberikan pesan yang amat mendalam. Allah SWT menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah, yakin akan hari akhir, dan senantiasa mengingat-Nya. Para mufasir menegaskan bahwa teladan ini mencakup seluruh sikap, ucapan, dan perbuatan Rasulullah ﷺ, terutama dalam konteks perjuangan menghadapi tantangan besar seperti Perang Ahzab.

Dari sisi kebahasaan, uswah berarti teladan yang diikuti, sedangkan hasanah bermakna baik dan paripurna. Dengan demikian, Rasulullah ﷺ adalah teladan total yang harus diikuti dalam semua aspek kehidupan. Tidak hanya dalam ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, atau dalam akhlak personal seperti kesabaran dan kelembutan, melainkan juga dalam kepemimpinan, politik, dan perjuangan menegakkan Islam di tengah masyarakat. Inilah dimensi keteladanan yang justru ditekankan oleh para mufasir ketika menafsirkan ayat ini.

Oleh karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup diwujudkan dengan shalawat atau peringatan seremonial belaka. Cinta sejati harus dibuktikan dengan menjadikan beliau sebagai uswah hasanah dalam arti yang sesungguhnya: mengikuti manhaj dakwah beliau, menolak kompromi dengan sistem kufur, serta berjuang untuk menegakkan syariah dan menghadirkan kembali Daulah Islam yang menyatukan umat. Hanya dengan cara inilah cinta kepada Rasulullah ﷺ benar-benar terbukti, dan hanya dengan jalan inilah umat Islam akan keluar dari krisis peradaban menuju kejayaan yang diridai Allah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *