Beranda / Opini / Urgensi Pemahaman dalam Perubahan Masyarakat

Urgensi Pemahaman dalam Perubahan Masyarakat

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullahu ta’ala membuka kitab Nizhamul Islam dengan pembahasan tentang kebangkitan (an-nahdhah). Di sana beliau menegaskan bahwa kebangkitan manusia atau masyarakat berakar dari pemahaman (mafahim) yang ada di benak mereka. Pemahaman inilah yang menentukan arah cinta dan benci, yang pada akhirnya menggerakkan perilaku dan pilihan hidup seseorang.

Manusia mencintai sesuatu karena ia memandangnya baik berdasarkan pemahamannya. Ia membenci sesuatu karena meyakini hal itu buruk, juga berdasarkan pemahaman yang ia miliki. Maka, cinta dan benci bukanlah sesuatu yang lahir secara naluriah semata, melainkan hasil dari cara pandang dan penilaian yang dibentuk oleh akal dan keyakinan.

Namun, bagaimana cara mengindera sebuah pemahaman yang bersarang di benak seseorang? Bagaimana kita tahu bahwa seseorang memahami Islam dengan benar, atau sebaliknya, telah terpengaruh oleh pemikiran selain Islam?

Satu-satunya jalan adalah dengan mengindera suluk (perbuatannya).

Sebab pemahaman itu tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi dapat dikenali melalui perilaku yang memancar darinya. Jika pemahamannya benar, maka ia akan tercermin dalam perbuatannya, ucapannya, dan bahkan apa yang ia tuliskan. Sebaliknya, jika pemahamannya keliru, maka itu pun akan tampak dalam sikap dan tindakannya.

Maka, untuk menilai apakah sebuah masyarakat telah bangkit atau belum, jangan hanya melihat wacana atau semangat sesaat. Lihatlah apa yang mereka lakukan, ucapkan, dan tuliskan. Apakah tindakan mereka mencerminkan kecintaan terhadap hukum syariah dan kebencian terhadap hukum kufur? Jika iya, maka berarti pemahaman masyarakat telah bergerak menuju kebangkitan sejati. Jika belum, maka dakwah harus terus dilanjutkan hingga cinta terhadap syariah dan penolakan terhadap sistem kufur benar-benar menjadi opini umum masyarakat.

Sejarah membuktikan bahwa setiap perubahan besar selalu berawal dari perubahan pemikiran. Perubahan cinta dan benci masyarakat pun mengikuti perubahan pemahaman mereka.

Lihatlah masyarakat Eropa pada Abad Pertengahan. Dahulu, mereka sangat mencintai agamanya dan membenci mereka yang menentangnya. Namun seiring munculnya pemikiran sekular dan rasionalisme, pandangan itu terbalik. Mereka justru mulai membenci agamanya sendiri dan mencintai kaum yang dahulu mereka musuhi.

Perubahan itu tidak terjadi karena faktor ekonomi atau politik semata, melainkan karena perubahan pemahaman yang mengubah cara mereka memandang hidup, agama, dan kekuasaan.

Namun, cara mereka mengekspresikan perubahan itu jauh dari nilai-nilai luhur. Mereka menumpahkannya dalam revolusi berdarah, dengan semboyan yang mengguncang dunia:

“Il faut étouffer le dernier roi avec les tripes du dernier prêtre.”
(“Haruslah kita mencekik raja terakhir dengan isi perut pendeta terakhir.”)

Ungkapan ini menggambarkan betapa perubahan pemahaman tanpa bimbingan wahyu bisa melahirkan kebencian yang liar, tanpa arah, dan tanpa batas moral.

Islam tidak menempuh jalan seperti itu.

Perubahan dalam Islam bukan hanya menyangkut isi pemahaman, tetapi juga metode mengekspresikannya. Rasulullah Saw menunjukkan bahwa perubahan sejati adalah perubahan yang berakar dari pemahaman yang benar dan dijalankan dengan cara yang benar pula.

Beliau Saw mengubah masyarakat melalui dakwah pemikiran, membentuk opini umum berbasis aqidah Islam, hingga masyarakat itu siap memberikan dukungan politik (thalabun nushrah). Barulah setelah itu, tegaklah kekuasaan Islam yang menaungi seluruh kehidupan dengan syariat.

Inilah yang disebut perubahan mendasar dan revolusioner ala Rasulullah Saw — perubahan yang dimulai dari pemahaman, tumbuh menjadi kesadaran kolektif, lalu diwujudkan melalui cara yang syar‘i dan terarah.

Oleh karena itu, dakwah Islam hari ini harus meneladani metode tersebut: membangun pemahaman yang lurus, menumbuhkan cinta kepada syariah, menanamkan kebencian terhadap sistem kufur, dan menempuh semua itu dengan cara yang tetap ittiba‘ kepada Rasulullah Saw.

Sebab cinta dan benci sejati bukan sekadar perasaan, melainkan manifestasi dari pemahaman yang benar tentang kehidupan dan ketaatan kepada Allah. Wallahu a’lamu bishshawwaab.

(Attasiky Billah)

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *