Beranda / Tafsir Quran / Rahmat Bagi Seluruh Alam: Tafsir Ideologis atas Misi Peradaban Rasulullah ﷺ

Rahmat Bagi Seluruh Alam: Tafsir Ideologis atas Misi Peradaban Rasulullah ﷺ

Oleh: Ustadz Zulfikar Tamher

Pendahuluan

Ketika dunia modern kian tenggelam dalam pusaran krisis kemanusiaan, kerusakan moral, dan ketimpangan sosial, manusia kembali mencari makna dari kata rahmat. Ironisnya, istilah yang luhur ini kini sering disempitkan sebatas sentuhan emosional, belas kasih individual, atau sekadar slogan kemanusiaan universal. Padahal, Islam menegaskan bahwa rahmat sejati tidak mungkin lahir dari sistem kehidupan yang menyingkirkan Allah sebagai pembuat hukum.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini merupakan puncak dari surat Al-Anbiya, yang menguraikan perjalanan para nabi dalam menegakkan kebenaran di tengah kaum yang menolak risalah. Penutup ayat ini bukan sekadar penghormatan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi pernyataan ideologis: bahwa risalah beliau membawa sistem kehidupan yang menebar rahmat secara menyeluruh — melampaui batas etnis, bangsa, bahkan agama.

Namun, dalam realitas saat ini, makna rahmatan lil ‘alamin mengalami penyempitan drastis. Sebagian memaknainya sebatas ajakan toleransi, sebagian lain mengurungnya dalam ranah ibadah dan moral individu. Islam direduksi menjadi agama spiritual, bukan peradaban yang mengatur kehidupan. Padahal, misi Rasulullah ﷺ bukan hanya memperbaiki akhlak, tetapi menegakkan tatanan hidup yang berpijak pada wahyu — meniadakan kezhaliman, menegakkan keadilan, dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai hamba Allah.

Karena itu, memahami rahmat bagi seluruh alam tidak cukup dengan tafsir moral atau linguistik. Ia harus dibaca dalam kerangka ideologis — bagaimana Islam memandang manusia, kehidupan, dan alam semesta; bagaimana rahmat itu diwujudkan dalam sistem hukum, ekonomi, sosial, dan politik yang membawa kesejahteraan hakiki.

Ayat ini menantang kita untuk meninjau ulang: apakah rahmat Rasulullah ﷺ masih hidup dalam sistem kehidupan hari ini? Ataukah telah digantikan oleh ideologi sekuler yang menjadikan manusia sebagai pengatur dirinya sendiri?

Teks Ayat dan Makna Lughawi

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

1. Makna Kata demi Kata

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu”

— Kata أَرْسَلَ (mengutus) berasal dari akar kata ر-س-ل yang berarti “mengutus dengan membawa risalah”. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh spiritual, tetapi utusan yang membawa sistem kehidupan dari Allah. Bentuk fi‘l māḍī (lampau) di sini menegaskan kepastian misi kenabian itu sebagai ketetapan Ilahi, bukan pilihan pribadi.

إِلَّا

“melainkan”

— Huruf istitsna’ (pembatasan) yang menegaskan eksklusivitas misi kerasulan. Rasulullah ﷺ diutus hanya dengan satu tujuan utama: menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada misi politik, ekonomi, atau sosial yang terpisah dari misi itu — semuanya tunduk di bawah makna “rahmat”.

رَحْمَةً

“sebagai rahmat”

— Kata raḥmah berarti kelembutan yang mendorong untuk memberi kebaikan dan menolak keburukan. Dalam konteks syar‘i, rahmat bukan sekadar rasa iba, melainkan sistem kehidupan yang membawa maslahat hakiki dan mencegah kerusakan. Imam Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa rahmat mencakup ‘iṭā’un ni‘mah wa daf‘un niqmah — pemberian kenikmatan dan penolakan kebinasaan. Dengan demikian, rahmat dalam ayat ini bersifat struktural dan peradaban, bukan sentimental semata.

لِّلْعَالَمِينَ

“bagi seluruh alam”

— Kata al-‘ālamīn adalah bentuk jamak dari ‘ālam, yang mencakup seluruh makhluk selain Allah — manusia, jin, bahkan sistem kehidupan di bumi. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadi rahmat bagi mereka yang beriman dengan keselamatan dan petunjuk, dan bagi yang kafir dengan tertundanya azab hingga datangnya hujjah yang jelas. Artinya, risalah Islam bukan hanya untuk satu kaum, melainkan bagi seluruh umat manusia tanpa sekat ruang dan waktu.

2. Makna Global Ayat

Dengan struktur kalimat yang dimulai dengan penafian (wama arsalnaka) lalu diikuti pembatasan (illa rahmatan), ayat ini mengandung penegasan:

Seluruh eksistensi kenabian Rasulullah ﷺ adalah manifestasi dari rahmat Allah bagi semesta.

Ini bukan rahmat yang pasif, tetapi rahmat yang bergerak, yang menegakkan keadilan, melawan kezhaliman, dan membangun peradaban yang berpijak pada wahyu.

Karenanya, makna rahmat lil ‘alamin tidak bisa dipisahkan dari penerapan syariah dan sistem Islam yang beliau bawa.

Seperti dikatakan oleh Al-Qurthubi:

“Rasulullah  adalah rahmat bagi orang beriman karena dengan beliau mereka mendapat petunjuk, rahmat bagi orang kafir karena azab tidak segera diturunkan, dan rahmat bagi seluruh makhluk karena dengan beliau datang syariat yang menegakkan keadilan dan menolak kerusakan.”

3. Konsekuensi dari Makna Bahasa Ini

Makna lughawi dan tafsir para ulama ini menunjukkan bahwa:

  • Rahmat tidak bisa dilepaskan dari risalah.
  • Tidak ada rahmat tanpa sistem Islam yang mengatur kehidupan.
  • Rahmat bersifat kolektif, bukan personal.
  • Ia dirasakan oleh masyarakat, bangsa, dan seluruh manusia melalui penerapan hukum Allah.
  • Rahmat meniscayakan perubahan.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ membawa umat dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, demikian pula umat hari ini harus menegakkan kembali rahmat itu dengan mengembalikan kehidupan kepada syariat.

Tafsir Ayat Menurut Para Ulama

Ayat وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ menjadi salah satu ayat yang paling sering dikutip ketika membahas keagungan pribadi Rasulullah ﷺ. Namun, para mufasir klasik tidak memahaminya secara sempit dalam konteks akhlak semata, melainkan dalam makna risalah dan sistem yang dibawanya. Berikut adalah beberapa pandangan utama para ulama tafsir:

1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Beliau menjadi penyebab keselamatan bagi siapa pun yang mengikutinya.

“Barang siapa yang menerima dan beriman kepada beliau, maka rahmat itu sempurna baginya di dunia dan akhirat. Adapun yang menolak dan mendustakannya, maka mereka terhalang dari rahmat itu.”

Ibnu Katsir menekankan dua aspek: rahmat sebagai hidayah dan rahmat sebagai nidzom (aturan) yang menuntun kehidupan manusia. Dengan demikian, keberadaan Rasulullah ﷺ bukan hanya memberi petunjuk spiritual, melainkan juga menegakkan tatanan hidup yang membawa kesejahteraan bagi seluruh manusia.

2. Tafsir Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa rahmat yang dimaksud mencakup dua lapisan:

  • Rahmat syar‘iyyah, yakni risalah Islam yang membawa manusia kepada keadilan dan keseimbangan hidup.
  • Rahmat kauniyyah, yakni tertundanya azab bagi kaum kafir setelah datangnya Rasul hingga mereka menolak dengan sadar.

Artinya, diutusnya Rasulullah ﷺ bukan hanya fenomena sejarah, tetapi peristiwa kosmik: hadirnya risalah yang menjadi ukuran kebenaran seluruh sistem kehidupan manusia.

3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menegaskan bahwa rahmat Rasulullah ﷺ tidak hanya untuk orang beriman.

“Beliau adalah rahmat bagi seluruh makhluk. Siapa yang beriman akan mendapat rahmat dalam bentuk hidayah, dan siapa yang kufur akan mendapatkan rahmat berupa tertundanya hukuman hingga datangnya hujjah yang nyata.”

Dalam tafsir ini, konsep rahmat melebar — tidak terbatas pada rasa kasih, tetapi mencakup kehadiran hukum dan hujjah yang menjadi dasar bagi keberlangsungan kehidupan manusia di bawah aturan Allah.

4. Tafsir As-Sa‘di

Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di menjelaskan bahwa misi Rasulullah ﷺ adalah membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat melalui petunjuk syariat yang sempurna.

“Semua yang dibawa oleh Rasulullah  adalah rahmat — baik dalam akidah, ibadah, muamalah, maupun siyasah (urusan kemasyarakatan).”

Rahmat Islam, menurut As-Sa‘di, tidak hanya terwujud ketika seorang individu berakhlak baik, tetapi ketika masyarakat hidup dalam keadilan sosial, ekonomi, dan hukum berdasarkan syariat.

5. Tafsir Kontemporer: Rahmat sebagai Sistem Hidup

Para mufasir dan pemikir kontemporer melihat bahwa rahmat Rasulullah ﷺ baru bisa dirasakan secara nyata bila risalah yang dibawanya diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Muhammad Asad menekankan bahwa rahmat Islam adalah sistem nilai yang menegakkan keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial.

Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an menegaskan bahwa “rahmat Rasulullah  tidak hanya dalam akhlak beliau, tetapi dalam syariat yang beliau tegakkan di Madinah — tatanan sosial-politik yang menghadirkan keadilan bagi manusia.”

Dengan kata lain, rahmatan lil ‘alamin bukan konsep spiritual abstrak, melainkan kenyataan politik, sosial, dan ekonomi yang lahir dari penerapan syariat.

6. Kesimpulan Tafsir Para Ulama

Dari berbagai pandangan di atas, kita dapat menarik tiga poin penting:

  • Rahmat Rasulullah ﷺ adalah risalah yang menyelamatkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Ia bukan sekadar belas kasih, tetapi sistem kehidupan yang membimbing manusia kepada kebenaran.
  • Rahmat bersifat universal dan komprehensif. Ia meliputi seluruh manusia dan makhluk hidup, dengan membawa aturan yang menolak kezhaliman dan kerusakan.
  • Rahmat itu hanya terwujud melalui penerapan syariat Islam secara kaffah. Tanpa syariat, rahmat hanya menjadi retorika — sementara realitas manusia tetap dikuasai oleh sistem kufur yang menindas.

Hal ini semakin menegaskan: rahmatan lil ‘alamin adalah ideologi hidup yang menata seluruh dimensi manusia dan masyarakat.

Maka, ketika ayat ini dipahami dalam perspektif ideologis, ia bukan hanya seruan moral, tetapi landasan peradaban — panggilan untuk menegakkan sistem yang menjadikan rahmat Allah nyata dalam kehidupan dunia.

Perspektif Ideologis: Rahmat Sebagai Sistem Peradaban Islam

1. Rahmat Bukan Sekadar Kasih Sayang, Tapi Sistem Hidup

Dalam pandangan ideologis Islam, rahmat tidak hanya bermakna empati atau kelembutan hati, melainkan sistem kehidupan yang membawa manusia kepada keadilan dan keselamatan hakiki. Rasulullah ﷺ tidak diutus sekadar untuk menenangkan jiwa manusia, tetapi untuk mengatur kehidupan mereka dengan hukum Allah agar terhindar dari kezaliman buatan manusia.

Allah ﷻ menegaskan dalam ayat lain:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Ayat ini menjelaskan bahwa misi kerasulan adalah menegakkan keadilan melalui penerapan wahyu — bukan sekadar menyeru kepada moralitas. Maka rahmat lil ‘alamin hanya bisa terwujud ketika manusia hidup di bawah aturan yang berasal dari Allah, bukan dari hawa nafsu manusia.

2. Rasulullah ﷺ: Pembawa Transformasi Peradaban

Ketika Rasulullah ﷺ diutus, dunia berada dalam kegelapan jahiliyah — tatanan sosial yang menindas, menuhankan manusia, dan mengukur segalanya dengan kekuasaan. Rahmat yang beliau bawa bukan sekadar nasihat akhlak, tetapi revolusi pemikiran dan sistem.

Di Makkah, beliau membangun aqliyyah Islamiyyah (pola pikir Islami) dan nafsiyyah Islamiyyah (pola sikap/jiwa Islami).

Di Madinah, beliau mendirikan Daulah Islam, menerapkan hukum Allah secara menyeluruh, dan memimpin masyarakat berdasarkan wahyu.

Rahmat yang dibawa Rasulullah ﷺ menjelma menjadi peradaban yang melindungi darah, kehormatan, dan harta manusia — tanpa membedakan ras atau bangsa.

Selama 13 abad, sistem Islam membuktikan dirinya sebagai rahmat yang nyata: membebaskan budak, menjamin kesejahteraan, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana dicatat oleh Will Durant dalam The Story of Civilization,

“Peradaban Islam telah menjadi mercusuar bagi dunia selama berabad-abad, ketika Eropa masih tenggelam dalam kegelapan.”

Pernyataan sejarawan Barat ini menguatkan bahwa rahmat Rasulullah ﷺ bukan slogan, tetapi sistem peradaban yang hidup dan berpengaruh secara global.

3. Islam vs Sekularisme: Benturan Paradigma Rahmat

Dunia modern hari ini justru menyingkirkan wahyu dari kehidupan publik. Ideologi sekularisme memisahkan agama dari negara, dan menjadikan manusia sebagai pembuat hukum bagi dirinya sendiri. Akibatnya, muncul krisis multidimensi: perang, kemiskinan, kerusakan moral, hingga kehancuran lingkungan.

Sekularisme mengajarkan bahwa rahmat bisa diciptakan oleh manusia melalui demokrasi, HAM, atau pluralisme. Padahal, semua itu hanyalah bentuk lain dari sistem buatan manusia yang rapuh dan kontradiktif. Bagaimana mungkin manusia yang lemah dan terbatas dapat menciptakan rahmat universal tanpa panduan Sang Pencipta?

Islam menolak paradigma ini secara tegas. Dalam Islam, rahmat adalah hasil penerapan wahyu Allah dalam seluruh aspek kehidupan — politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan hukum. Selama aturan Allah digantikan oleh undang-undang buatan manusia, rahmat itu hanya akan menjadi wacana, bukan kenyataan.

4. Rahmat Islam yang Nyata dalam Sejarah

Beberapa contoh nyata penerapan rahmat Islam dalam sejarah:

  • Keadilan hukum: Khalifah ‘Umar bin Khaththab menolak menghukum pencuri saat masa paceklik — karena keadilan syariat menimbang sebab sosial, bukan hanya teks hukum.
  • Perlindungan non-Muslim: Ahli dzimmah hidup aman di bawah naungan negara Islam; mereka tidak dipaksa memeluk Islam, melainkan dilindungi dalam keyakinan dan harta mereka. 
  • Distribusi kekayaan: Sistem zakat, kharaj, dan baitul mal menjamin kesejahteraan rakyat tanpa menimbulkan kesenjangan sosial.
  • Peran perempuan: Islam mengangkat martabat perempuan bukan dengan melepaskan batas syariat, tetapi dengan memuliakannya sebagai ibu, pendidik generasi, dan penjaga peradaban.

Semua itu bukan hasil kebajikan pribadi, tetapi buah dari sistem Islam yang diterapkan secara struktural — inilah rahmat lil ‘alamin dalam bentuknya yang paling nyata.

5. Krisis Rahmat di Dunia Modern

Ketiadaan penerapan Islam hari ini membuat dunia kehilangan rahmat yang sesungguhnya.

Lihatlah fakta:

  • Perang berkepanjangan di negeri Muslim.
  • Kesenjangan ekonomi global yang menguntungkan segelintir oligarki.
  • Degradasi moral dan disorientasi generasi muda.

Ini semua adalah konsekuensi langsung dari tercerabutnya sistem Islam dari kehidupan. Umat Islam hanya mewarisi nama, tetapi kehilangan ruh peradaban yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Mereka membaca ayat tentang rahmat, namun hidup dalam sistem yang menolak aturan Sang Pembawa Rahmat.

6. Rahmat Itu Harus Dihidupkan Kembali

Rahmat Islam tidak akan hidup hanya dengan dakwah moral atau amal sosial. Ia harus dihidupkan dengan dakwah ideologis — dakwah yang menyeru pada penerapan syariat secara menyeluruh dalam bingkai sistem Islam.

Inilah makna sejati mengikuti Rasulullah ﷺ: bukan hanya mencintai pribadinya, tetapi menghidupkan sistem hidup yang beliau bawa.

Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizhamul Islam:

“Islam bukan hanya akidah spiritual, tetapi akidah politik yang darinya lahir sistem kehidupan yang menyeluruh.”

Dengan demikian, memahami QS. Al-Anbiya:107 secara ideologis berarti memahami bahwa rahmat lil ‘alamin adalah tujuan peradaban Islam, bukan sekadar etika sosial.

Selama sistem sekuler masih menguasai dunia, rahmat itu belum benar-benar dirasakan oleh umat manusia.

Aplikasi Kontekstual dan Relevansi Modern

1. Dunia yang Kehilangan Rahmat

Dunia modern hidup dalam kemajuan teknologi tetapi kehilangan makna kemanusiaan. Di satu sisi, manusia berhasil menembus luar angkasa, menciptakan kecerdasan buatan, dan memecah atom; namun di sisi lain, jutaan manusia mati kelaparan, terjebak dalam perang, dan kehilangan arah hidup.

Krisis multidimensi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis paradigma. Dunia mengusir wahyu dari ruang publik dan menggantikannya dengan ideologi sekuler-kapitalis yang menuhankan manfaat serta kebebasan individu.

Akibatnya, kebijakan ekonomi hanya berpihak pada pemilik modal, politik dikuasai kepentingan, dan moral manusia terdegradasi menjadi relativisme tanpa batas.

Dalam konteks ini, ayat “وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ” hadir bukan sekadar penghiburan spiritual, tetapi kritik tajam terhadap sistem dunia yang menolak rahmat Allah. Rahmat itu hilang bukan karena Islam tidak ada, melainkan karena Islam tidak diterapkan.

2. Krisis Kemanusiaan: Bukti Absennya Sistem Rahmat

Beberapa fakta nyata memperlihatkan absennya rahmat dalam tatanan dunia saat ini:

  • Keadilan ekonomi: 1% penduduk dunia menguasai lebih dari 45% kekayaan global. Sementara itu, 700 juta manusia hidup dalam kemiskinan ekstrem.
  • Sistem kapitalisme yang memisahkan moral dari ekonomi melahirkan jurang sosial yang makin lebar.
  • Perang dan penjajahan modern: Negara-negara adidaya menjadikan perang sebagai bisnis. Negeri-negeri Muslim dijadikan ladang uji senjata dan medan eksploitasi sumber daya.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzalimi dan tidak membiarkannya dizalimi.” (HR. Muslim)

Krisis keluarga dan moral: Gaya hidup liberal menghancurkan fitrah manusia. Pernikahan dilecehkan, peran ibu diremehkan, dan orientasi seksual disimpangkan. Semua ini lahir dari ide kebebasan absolut yang menolak batas syariat.

Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bahwa tanpa sistem Islam, dunia tidak akan pernah menikmati rahmat Rasulullah ﷺ.

3. Rahmat Islam: Jalan Alternatif bagi Peradaban Dunia

Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Rahmat Islam bukan janji utopis, tetapi sistem konkret yang pernah menata dunia selama berabad-abad.

Beberapa prinsipnya:

  • Keadilan ekonomi: distribusi kekayaan melalui zakat, kharaj, jizyah, dan pengelolaan sumber daya alam oleh negara untuk kemaslahatan umum.
  • Kedaulatan hukum di tangan syariat: penguasa tidak bebas membuat hukum berdasarkan mayoritas, tetapi wajib tunduk pada wahyu.
  • Keadilan universal: semua manusia, Muslim maupun non-Muslim, dijamin hak hidup, kehormatan, dan keamanan di bawah pemerintahan Islam.
  • Ilmu dan peradaban: Islam mendorong pencarian ilmu sebagai ibadah; lahir para ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, dan Al-Biruni di bawah sistem Islam yang menjadikan ilmu sebagai sarana menegakkan tauhid.

Semuanya merupakan bentuk nyata dari rahmatan lil ‘alamin — rahmat yang terinstitusionalisasi, bukan sekadar seruan moral.

4. Tanggung Jawab Umat Islam Hari Ini

Umat Islam hari ini memikul amanah besar: mengembalikan rahmat Rasulullah ﷺ ke dalam realitas kehidupan. Namun, ini tidak akan terwujud dengan sekadar nostalgia sejarah atau aktivitas ritual. Diperlukan kesadaran ideologis, bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang wajib diterapkan dalam seluruh aspek masyarakat dan negara.

Dakwah yang membawa rahmat harus:

  • Membentuk kesadaran politik Islam — memahami bahwa Islam mengatur kekuasaan, hukum, dan pemerintahan.
  • Menyeru kepada penerapan syariat secara kaffah, bukan sebagian.
  • Menolak ideologi sekuler dan nasionalisme yang memecah belah umat dan menjauhkan mereka dari sistem Islam.
  • Membangun ukhuwah dan kekuatan umat untuk menegakkan kembali institusi yang menegakkan hukum Allah di bumi.

5. Rahmat Itu Akan Kembali

Rahmat Rasulullah ﷺ tidak pernah hilang dari dunia; ia hanya tertutup oleh debu ideologi kufur yang mendominasi. Ketika umat kembali menjadikan Islam sebagai asas kehidupan, rahmat itu akan kembali menyinari dunia sebagaimana dahulu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kemudian akan kembali Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa rahmat Islam akan sempurna kembali ketika sistem Islam ditegakkan. Inilah puncak manifestasi dari QS. Al-Anbiyā’:107 — rahmat yang hidup dalam tatanan masyarakat, hukum, dan negara.

Penutup

Ayat وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ bukan hanya potongan indah dalam mushaf, tetapi pernyataan ideologis yang menegaskan jati diri risalah Islam. Rasulullah ﷺ diutus bukan untuk memperindah moral dunia jahiliyah, melainkan untuk menggantinya dengan sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu — sistem yang menjadikan manusia tunduk kepada Allah, bukan kepada hawa nafsu dan kepentingan sesama manusia.

Rahmat yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah rahmat yang terwujud dalam realitas sosial: rahmat yang meniadakan penindasan, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan kesejahteraan yang sejati. Rahmat itu hidup dalam bentuk nidzām(tatanan) yang menyeluruh, bukan hanya dalam bentuk nasihat dan kelembutan pribadi. Maka, mengklaim mencintai Rasulullah tanpa memperjuangkan tegaknya sistem Islam berarti mencintai tanpa meneladani.

Umat Islam hari ini harus menatap ayat ini bukan sebagai pujian bagi masa lalu, tetapi sebagai mandat peradaban. Sebab rahmat itu belum benar-benar dirasakan dunia; ia masih terhijab oleh ideologi sekuler yang menjauhkan hukum Allah dari kehidupan. Dunia masih menanti lahirnya generasi pembawa rahmat yang akan menegakkan kembali keadilan Islam di tengah kekacauan sistem buatan manusia.

Dan tugas itu kini berada di tangan kita — para pewaris dakwah kenabian.

Tugas untuk menyalakan kembali cahaya rahmat Rasulullah ﷺ di tengah kegelapan dunia modern.

Tugas untuk membuktikan kepada seluruh alam bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi rahmat bagi seluruh alam, dalam makna yang utuh: akidah, syariah, dan peradaban.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 8)

Rahmat itu akan kembali bersinar — bukan sekadar dalam ucapan, tetapi dalam kehidupan; bukan hanya di hati para individu, tetapi dalam struktur masyarakat dan negara.

Dan ketika itu tiba, dunia akan kembali mengenal arti sebenarnya dari firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Tag:

4 Komentar

Tinggalkan Balasan ke betso88win Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *