Beranda / Opini / Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional: Solusi Nyata atau Sekadar Bagi-Bagi Kekuasaan?

Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional: Solusi Nyata atau Sekadar Bagi-Bagi Kekuasaan?

Isu pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional (DKBN) mencuat seakan menjadi jawaban dari keresahan kaum pekerja: upah yang stagnan, kontrak kerja tidak pasti, jaminan sosial yang timpang, hingga lemahnya perlindungan hukum. Pertanyaannya: apakah DKBN benar-benar solusi urgent bagi buruh, atau sekadar panggung politik baru untuk bagi-bagi kekuasaan?

Kapitalisme dan Buruh yang Terus Tertindas

Dalam sistem kapitalisme hari ini, buruh ditempatkan sekadar sebagai alat produksi. Mereka diperas tenaganya dengan imbalan upah minim, sementara keuntungan besar dikuasai pemilik modal. Negara yang mestinya hadir sebagai pelindung, justru sering tunduk pada kepentingan investor. Inilah mengapa buruh selalu terjebak pada persoalan klasik: eksploitasi. Ketika negara membentuk lembaga baru seperti DKBN, keraguan wajar muncul. Apakah dewan ini sungguh akan memperjuangkan buruh? Atau justru menjadi wadah akomodasi politik, tempat kursi-kursi baru dibagi kepada elit, tanpa menyentuh problem mendasar pekerja?

Islam: Menjamin Kesejahteraan, Bukan Sekadar Lembaga

Dalam pandangan Islam, kesejahteraan buruh tidak lahir dari sekadar membentuk dewan atau komite. Islam mengatur secara tegas hak pekerja: upah harus adil, dibayar tepat waktu, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Lebih dari itu, Islam menolak sistem kerja yang menzalimi. Negara dalam sistem Islam (Khilafah) wajib memastikan distribusi kekayaan yang adil, menyediakan lapangan kerja, serta menjamin kebutuhan pokok rakyat, bukan menyerahkan nasib buruh kepada mekanisme pasar.

DKBN: Solusi Parsial yang Tak Menyentuh Akar

Maka, bila DKBN hanya berdiri di atas pondasi kapitalisme, ia tidak lebih dari solusi tambal sulam. Sebab akar masalahnya ada pada sistem ekonomi yang menuhankan keuntungan, bukan pada ketiadaan dewan. Selama paradigma kapitalisme masih mendominasi, buruh akan tetap terpinggirkan. Satu-satunya jalan keluar sejati adalah kembali pada aturan Islam yang menyatukan politik, ekonomi, dan sosial dalam satu kesatuan hukum Allah. Inilah yang mampu menjamin kesejahteraan buruh dan rakyat secara menyeluruh.

Kesimpulan

Urgensi DKBN hanya ilusi jika tidak dibarengi perubahan sistem. Tanpa Islam, buruh hanya akan terus dijadikan bahan tawar-menawar politik dan objek eksploitasi kapitalisme. [indra]

Tag:

5 Komentar

Tinggalkan Balasan ke poker baazi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *