Beranda / Editorial Pekanan / Hijrah Tak Cuma Soal Pindah Tempat: Saatnya Menjadi Umat Terbaik!

Hijrah Tak Cuma Soal Pindah Tempat: Saatnya Menjadi Umat Terbaik!

Setiap datangnya tahun baru Hijriyah, kita kerap disuguhi pemandangan yang itu-itu saja: pawai obor, doa bersama, kadang juga perayaan yang lebih ramai dari renungan. Tapi, apakah itu benar-benar semangat hijrah yang dicontohkan Nabi?

Sebenarnya, hijrah bukan hanya soal pindah tempat. Bukan pula sekadar merayakan kalender baru. Hijrah adalah soal perubahan arah hidup—dari kegelapan menuju cahaya, dari kehinaan menuju kemuliaan. Jika kita mau jujur, mungkin inilah saatnya kita bertanya: sudah sejauh mana umat ini berhijrah menuju predikat “khayru ummah”—umat terbaik?

Sayangnya, cermin kita hari ini memantulkan wajah yang masih penuh luka. Umat Islam, meski jumlahnya hampir 2 miliar, masih terseok dalam banyak hal. Secara ekonomi, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, padahal tanahnya kaya, sumber dayanya melimpah. Secara politik, kita terpecah belah, dan saat Palestina dibombardir, suara kita nyaris hanya menggema di sosial media.

Padahal dulu, sejarah pernah mencatat kebangkitan umat Islam dari titik nol. Rasulullah SAW bersama para sahabatnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Di sana, mereka tidak hanya membangun masjid—tapi juga membangun masyarakat, pemerintahan, bahkan peradaban. Madinah bukan sekadar tempat baru, melainkan titik balik bagi kebangkitan.

Umar bin Khattab paham betul nilai ini, makanya beliau memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Sebab, hijrah bukan nostalgia. Hijrah adalah simbol perlawanan terhadap keterpurukan. Sebuah tekad untuk membalikkan keadaan, dengan iman dan kerja nyata.

Lalu, bagaimana dengan kita hari ini?

Apakah kita hanya puas menjadi penonton sejarah? Atau justru siap ikut menulis bab baru peradaban Islam? Karena jadi umat terbaik itu tidak otomatis. Ia butuh perjuangan, kesadaran, dan kebersamaan.

Hijrah modern bukan lagi soal pindah geografis, tapi transformasi mentalitas. Dari umat yang konsumtif jadi umat yang produktif. Dari hanya reaktif di media sosial jadi proaktif di lapangan. Dari hanya berharap bantuan jadi pemberi solusi.

Mari kita mulai dari hal sederhana: muhasabah. Evaluasi diri. Apa kontribusi kita untuk umat? Apa warisan yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita?

Ingat, umat terbaik bukan yang paling banyak mengeluh, tapi yang paling kuat bertahan, bekerja, dan bersatu.

Jika dulu Madinah dibangun dari nol menjadi pusat peradaban, maka hari ini—dengan segala teknologi dan potensi yang kita miliki—bukankah kita seharusnya bisa lebih baik?

Tahun baru Hijriyah ini bukan hanya soal pergantian angka. Ini panggilan untuk berhijrah—secara pribadi, sosial, bahkan global.

Karena umat terbaik tidak lahir dari perayaan, tapi dari kesadaran.

Dan hijrah bukan sekadar kisah lama. Ia adalah panggilan abadi—untuk kita semua.

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan ke jun88 phiên bản 2 Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *